MOKONDO (MODAL KxxxxxL DOANG)

Tadi
pagi on-the-way to work, aku dengar Hard Rock FM seperti biasanya.
Berhubung hari ini adalah hari Rabu, yang ditunggu2 adalah acara
The Most Tragic Love Story. Di acara ini para hardrockers
biasanya mengirimkan kisah cinta mereka yg tragic untuk disajikan: ada
yg bingung apakah masih harus kawin dengan tunangannya yg umurnya
tinggal bbrp bulan karena kanker, ada yg hamil dan bingung apakah mau
aborsi atau kawin dengan pasangannya yg dinilai abusive, dll. Yah,
macam-macamlah isinya. Intinya sih gue menikmati banget, karena selain
dibawakan dengan baik oleh Panji dan Stenny, biasanya dilanjutkan
dengan diskusi dan membaca tanggapan2 yg dikirimkan para pendengar
melalui sms.
 Kadang
kala, yg empunya kisah akan ditelpon dan mengambil keputusannya. Kalo
dipikir, kenikmatan itu didapat diatas penderitaan orang lain… tapi aku
khan ga sendiri… *ngeles mode on*
   

Pagi
ini diceritakan tentang seorang suami yg mempertimbangkan untuk
menceraikan istrinya dengan alasan tidak pernah cinta. Sang suami dulu
mengawini istrinya karena alasan financial: dimana dia berharap dengan
mengawini istrinya dia bisa mengangkat keadaan financial keluarganya,
misalnya: menyekolahkan adik-adiknya. Sekarang sekolah adik-adiknya
sudah mau rampung, dan dia berpikir tidak mau menyakiti istrinya lebih
lanjut, mangkanya bercerai. Bisa dibayangkan banyaknya sms masuk
menghujat sang empunya kisah.

 

Walaupun aku salut dengan keberaniannya untuk keluar dari Comfort Zone-nya, dan meninggalkan semua kemewahan yg ada… aku ga bisa menahan diri untuk bersikap menghakimi:

 

Cuih,
Cuih… Yah, apapun alasannya… mulia atau tidak, gue rasa hanya ada satu
sebutan yg cocok buat lelaki macam itu: Cowok MOKONDO (MODAL KxxxxxL
DOANG). Menurutku, cowok2 seperti ini itu lebih rendah lagi dari para
pelacur atau gigolo, karena setidaknya para pelacur / gigolo itu tidak
membohongi klien2 mereka bahwa mereka spend time dengan klien2 mereka
hanya untuk segepok uang. Tapi Sang Suami… ck..ck..ck.. menipu istrinya
supaya bisa menikmati kemudahan fasilitas financial dan ekonomi. Yah,
kalo istrinya tahu hal ini dari awal sih gpp, anggap aja ini sebuah
transaksi bisnis: “situ keluar badan, saya keluar uang”. Tapi dalam hal
ini: sang istri berpikir bahwa suaminya mencintainya. Sedihnya kalo dia
tau semuanya ini.

 

Aku
jadi ingat tetangga rumah nyokap, sepasang suami istri muda yg beranak
satu. Kelihatan banget istrinya yang memegang kendali dalam semuanya.
Cerewet dan sewot-nya, minta ampun deh! Punya bini seperti itu bener2 nightmare!
Semua tetangga dimusuhi… Sepertinya suaminya itu berasal dari keluarga
tak mampu, kemudian kawin dan kerja sama keluarga istrinya. Kalo ada
berantem, suami-nya baru ngeluarin satu kata, istrinya udah ngomong
sepuluh kata. Kita para tetangga bisa dengar dengan jelas semuanya
saking onarnya (bahkan sampai hafal “bait” selanjutnya itu seperti
apa). Kira2 intinya selalu begini: “Kamu tuh harus ingat! Kalo ngga ada
aku, kamu tuh bukan apa-apa.” Dan suaminya setiap bertemu dengan kita
para tetangga biasanya hanya menunduk diam. Duh, bisa dibayangkan ga
sih kehidupan seperti apa itu.

 

Dalam struktur masyarakat kita,  dimana-mana
kaum lelaki dianggap sebagai kepala rumah tangga dan wajib untuk
menafkahi keluarganya. Emasipasi kaum perempuan itu memang boleh
diterima dengan positif dan kompromi itu perlu dalam suatu rumah tangga
misalnya expense bisa dibagi bersama. Tapi janganlah
sampai urusan menafkahi rumah tangga itu menjadi kewajiban pihak
perempuan sepenuhnya. Mau ditaruh dimana muka kita sebagai laki-laki!
*Huh, male chauvinist-nya keliatan bener yah! Kyk mo kawin aja…. Wakakakakaaa*

 

Sebenarnya
kaum MOKONDO ini byk sekali kok di sekitar kita. Kadang mereka tidak
selalu harus berasal dari keluarga tidak mampu. Tapi itulah, kalo jalan
bareng rasanya berat banget untuk cabut dompet. Adanya dibayarin trus
ama pasangannya atau temen2 yg lain. Kalo bon sudah sampai dimeja,
mereka pura2 sibuk ama yg lain. Sepertinya sudah menjadi kewajiban
orang lain untuk membayar untuknya. Kemana-mana maunya diantar-jemput.
Cari pasangan juga maunya yg kaya atau setidaknya fasilitas memadai.
Dibeli-in ini itu, diajak jalan-jalan keluar negeri… siapa nolak?

 

Aku
pernah bertemu dengan para Mokondo itu. Melihat sikap dan cara berpikir
mereka benar2 membuatku berdecak heran. Dengan baju merk-merk terkenal
dan aksesoris paling muktahir menempel di badan, mereka heboh
membandingkan apa yg sudah didapat dari pasangan mereka: kondo,
jalan-jalan keluar negeri, dll. Semacam ada persaingan dan prestise
sendiri bagi ‘pemenang’-nya.

 

Aku
boleh bengong ga ngerti disaat mereka sibuk mempergunjingkan merk2 baju
terkenal atau gagget-gagget terakhir yg baru keluar. Tapi walaupun
dengan baju yg “hanya” berasal dari factory outlets, Matahari atau
Mangga Dua, aku bisa dengan bangga mengatakan bahwa baju-baju ini
kubeli dengan keringat sendiri lho!

 

Dalam
hal ini aku sungguh bersyukur dengan keadaanku sekarang yg masih bisa
menunjang kemandirianku. Aku juga berterima kasih kepada kedua orang
tuaku yang sejak kecil selalu mencanangkan pentingnya “makan dari
tangan sendiri”.

Sumber : http://indigodeville.blogspot.com

Leave a Reply